PEMBAHASAN
A. Patient Assesment
adalah suatu rangkaian kegiatan terhadap pasien/klien yang mencakup tindakan anamnesa dan pemeriksaan untuk mengidentifikasi permasalahan yang nyata terhadap pasien/klien yang membutuhkan ortosis maupun prostesis , dengan cara memperhatikan riwayat penyakit, telah umum, uji khusus, pemeriksaan penunjang, pengukuran dilanjutkan dengan evaluasi hasil pemeriksaan melalui analisis dan sintesis dalam sebuah proses pertimbangan teknis dan klinis. Terbagi menjadi subjective dan objective .
Disini kami tidak melakukan proses assesment ini dikarenakan assesment dilakukan bukan kepada pasien sesungguhnya tetapi kepada teman. Adapun proses assement meliputi:
Alat :
1. Blanko assesment
2. Gornio meter
3. Alat tulis
4. Mid line
Assesment terbagi atas subjective assesment dan objective assesment , meliputi :
a. Subjective assesment
Pemeriksaan yang dilakukan dimana pasien yang menjadi subjek / bercerita tentang kehidupannya sehari – hari sebelum terjadinya amputasi.
Adapun pemeriksaan tersebut meliputi:
1. Nama pasien :
2. Tempat. Tanggal lahir :
3. Umur :
4. Tinggi/berat badan :
5. Jenis kelamin : perempuan
6. Alamat :
7. Nomor Telp :
8. Pekerjaa :
9. Keadaan tempat tinggal :
10. Previous device :
11. Sebab amputasi :
12. Tempat/tanggal dilakukannya amputasi :
b. Objective assesment
Pemeriksaan yang dilakukan dimana pasien yang menjadi objek, pemeriksaan.
Pemeriksaan obyektif : inspeksi, palpasi, pemeriksaan gerakan dasar, pemeriksaan LGS(Lingkup Gerak Sendi), pemeriksaan MMT (Manual Muscle Testing).
• Inspeksi : Pemeriksaan dilakukan dengan cara
melihat dan mengamati kondisi pasien.
• Palpasi : Pemeriksaan dilakukan dengan
cara meraba, memegang dan menekan bagian stump pasien.
• Pemeriksaan Gerak Dasar : Pemeriksaan gerak aktif, pasif
dan Isometik melawan tahanan.
• Pemeriksaan LGS : Mengetahui luas gerak sendi pada
stump.
• Pemeriksaan MMT : Mengetahui kekuatan otot stump
dengan kriteria 5-0.
KRITERIA KEKUATAN OTOT
Untuk mengetahui nilai kekuatan otot terdapat kriteria :
a. Nilai kekuatan 5 : Subyek mampu dengan LGS
i. (Lingkup Gerak Sendi) penuh dengan melawan tahanan maksimal dan melawan gravitasi.
b. Nilai kekuatan 4 : Subyek mampu dengan LGS penuh,
i. melawan gravitasi dengan tahanan sedang.
c. Nilai kekuatan 3 : Subyek mampu dengan LGS penuh dan
i. melawan gravitasi tanpa tahanan.
d. Nilai kekuatan 2 : Subyek mampu bergerak dengan LGS
i. sebagian dan melawan gravitasi.
e. Nilai kekuatan 1 : Subyek mampu mengkontraksikan, tetapi
i. tidak terjadi gerakan otot.
f. Nilai kekuatan 0 : Subyek sama sekali tidak bisa
i. mengkontraksikan ototnya.
Hasil pemeriksaan pasien
1. Kaki amputasi :
2. Kondisi stump :
3. Level amputasi :
Disini kami tidak melakukan pemeriksaan ROM dan MMT
ROM MMT
RIGHT LEFT RIGHT LEFT
HIP Flexion :
Extension:
Abduction:
Adduction:
KNEE Flexion :
Extension:
Hasil ukur blanko pasien AD :
B. Casting pasien
Tujuan pembuatan negative cast adalah untuk memastikan keakuratan model dari stump yang menunjukkan posisi berat badan pada stump atau sebagian berat badan.
Masalah yang biasanya dihadapi meliputi :
1. Karena stump berbentuk bulbous menyebabkan negative cast sulit dilepas.
2. Stump pasien harus menumpu selama casting sehingga soft tissue pada bagian ujung distal harus dalam posisi yang nyaman.
Alat dan bahan yang dibutuhkan
1. Jas Lab 11. Cutter
2. Blanko assesment 12. Bed pemeriksaan
3. Blanko ukur 13. Gips roll
4. Gorniometer 14. Stokinet
5. Alat tulis 15. Gunting
6. Mid line
7. Pensil air
8. Tali rapia
9. Ember
Kamera
Langkah – langkah casting :
1. Data pasien secara personal dan pekerjaanya dicatat pada blangko ukur.
2. Pengukuran secara detail stump dan kaki normal juga dicatat pada blangko ukur.
3. Perhatian khusus diberikan pada diameters dan circumferences pada ujung stump bulbous dan mengukur secara jeli pada bagian tersebut.
4. Untuk melepas negative cast dari stump pasien, kita harus memotongnya. Untuk melindungi pasien, sebaiknya kita menempatkan potongan slang berdiameter 1 cm.
5. Memasang stokinet dan memberi tanda pada stump.
6. Blok disusun. Blok ini terbuat dari kayu yang pada bagian permukaan atasnya dilapisi plastazote. Ketika pasien berdiri pada blok ini, pelvis pasien harus pada posisi sejajar.
7. Ujung distal stump pasien dibalut dengan plaster gips pada saat duduk. Sebelum plaster gips mengering, pasien berdiri dengan end of stump pada blok kayu.
8. Stump dibalut dengan plaster gips sampai ke ujung proksimal.
9. Ketika negative gips telah terbentuk, pasien duduk. Negative cast dipotong dengan hati- hati sepanjang slang. Hati- hati saat pengambilan negative cast jangan sampai rusak. Negative cast lalu ditutup dan siap untuk diisi dengan adonan gips.
Selanjutnya setelah negatif gips selesai di cetak dan sudah mengering maka langkah selanjutnya adalah pembuatan positip gips .
Alat dan bahan
1. Ember dan air
2. Pasir
3. Negatif cast
4. Besi
5. Air sabun
Langkah-langkahnya sebegai berikut :
a. Menyiapkan tempat yang berisi pasir sebagai tempat menanam gips.
b. Membasuh negatif gips dengan menggunakan air sabun, jangan terlalu banyak dan jangan terlalu sedikit.
c. Memasukkan air ke dalam negatif gips kemudian menuangkannya ke dalam ember sebagai takaran air yang akan digunakan untuk proses pengecoran.
d. Memasukkan gips pada takaran air dan menunggu gelumbung gips hilang, kemudian mengaduk gips dengan rata.
e. Dengan cepat menuangkan adonan gips ke dalam negatif gips dan menancapkan besi sampai ujung kemudian besi tersebut agak diangkat sedikit.
f. Menuggu gips sampai kering.
C. Cast Retrification
Rektifikasi adalah proses pengurangan dan penambahan pada area tertentu di positif gip agar saat pembuatan soket dapat fit dengan stump.
Peralatan yang dibutuhkan :
Alat
a. Kikir untuk gips
b. Midline
c. Pensil air
d. Ragum
e. Kuas
f. Sikat pembersih kikir
g. Gelas aqua
h. Kawat kassa
i. Paku
j. Palu
k. Caliper
l. Cutter
m. Blangko
n. Alat tulis
Bahan :
a. Negative gips
b. Gips
c. Air
Daerah yang boleh mendapat tekanan/ Boleh dikurangi :
1. Distal end Pad
2. Tibial Flare
3. Patella Tendon
Daerah yang tidak boleh ditekan / diberi penambahan :
1. Tibial Crest dan Tuberosity
2. Fibular head
3. Neck of Fibula
4. Patella
5. Medial and Lateral malioli
Langkah –langkah cast rectrification :
1. Pembentukan pada daerah ini mumumnya sama dengan TT, tetapi pada pembentukan di daerah patella tendon ini agak lebih cekung.
2. Mengukur medio – lateral lutut knee ; Ukur daerah medial dan lateral lutut pada bagian sirkum terbesar kemudian bandingkan dengan blanko ukur. Jika perbedaan ukurannya masih jauh maka kita harus mengurangi positif gips.
3. Bagian tibial flare dilakukan pengurangan dan pada bagian tibialis anterior sedikit di kurangi. Perlu di ingat bahwa pada bagian ini merupakan bagian yang tidak boleh mendapatkan tekanan sehingga pengurangan ini berkisar antara 1-2mm.
4. Sudut posterior stump : Penekanan pada fossa poplitea tidak begitu penting karena bagian ini lurus dengan tendon patella.Tetapi jika ukurannya terlalu tinggi maka harus dikurangi.
5. Head of fibula : Head of fibulla harus dibentuk sesuai dengan bentuk yang sebenarnya. Ditambahkan Kurang lebih 3mm dan lebarnya 1cm.
6. Tibial crest dan tuberosity : Tibial crest ditambahkan sekitar 2-3mm. Pada bagian tuberosity merupakan daerah yang sensitif terhadap tekanan,sehingga tidak boleh dilakukan pengurangan. Penambahan dilakukan mulai dari bagian bawah tuberosity ke bagian ujung tibial yang menonjol.
7. Ujung stump: Distal end merupakan daerah yang paling sensitif dan membutuhkan perawatan yang lebih dari daerah lain. Haluskan dan ratakan bagian distal end. Karena pada bagian ini membutuhkan area yang agak longgar (tidak tertekan). Bentuklah dengan rata dan agak melebar.
8. Posterior trim line : Dinding Posterior juga mengikuti ukuran yang sebenarnya. Tetapi jika bagian ini terlalu panjang maka kita dapat mengurangi trim-linenya. Trim-line bagian posterior biasanya sekitar 2-3cm dibawah tendon patella.
D. Fabrikasi
• Alat dan Bahan
a. Alat
b. Router
c. Open
d. Blower
e. Vacum
f. Ragum
g. Cutter
h. Gunting
i. Pensil air
j. Penggaris
k. Bendage
l. Outside calliper
m. Stokinet
• Bahan
a. Spons 5 mm
b. Lem
c. Kain
d. Paku
e. Bedak
Alat pelindung diri
• Masker
• Sarung tangan
• Ear plug
• Kacamata
• Pembuatan soft socket
• Membuat body soft socket
• Mengukur lingkar terbesar dan terkecil stump, serta panjang dari lingkar terbesar sampai lingkar terkecil tersebut
• Membuat pola pada spons :
1. lebar bagian atas sesuai ukuran lingkar terbesar stump dan lebar bagian bawah sesuai ukuran lingkar terkecil stump
2. panjang pola sesuai panjang dari titik lingkar terbesar stump sampai titik lingkar terkecil stump dengan penambahan panjang bagian atas dan bawah masing-masing 10 cm
pola bagian samping kanan dan kiri masing-masing diukur kedalam pola sekitar 2 cm digunakan untuk pola sehingga membentuk bangun ruang
3. merouter bagian samping kanan dan kiri yang mendapat tambahan 2 cm tadi hingga ketebalan 1mm
4. mengelem bagian tersebut sehingga menyatu satu sama lain.
5. memasangkan positif gips pada vakum pembentuk
6. memasukkan spons pada oven bersuhu 180̊ selama sekitar 5 menit sampai spons lentur
7. mengangkat spons dan segera pakaikan pada positif gips
8. membandage sesuai bentuk ujung stump
9. menunggu hingga dingin
10. membuka bandage
11. memotong sisa spons pada bagian ujung stump
12. merapikan bagian ujung stump menggunakan router
13. Membuat mangkok ujung stump dari spons
14. menyetak gambar ujung stump pada spons
15. menandai anterior dan posteriornya
16. merouter bagian samping kanan dan kiri yang mendapat tambahan 2 cm tadi hingga ketebalan 1mm
17. mengelem bagian tersebut sehingga menyatu satu sama lain.
18. memasangkan positif gips pada vakum pembentuk
19. memasukkan spons pada oven bersuhu 180̊ selama sekitar 5 menit sampai spons lentur
20. mengangkat spons dan segera pakaikan pada positif gips
21. membandage sesuai bentuk ujung stump
22. menunggu hingga dingin
23. membuka bandage
24. memotong sisa spons pada bagian ujung stump
25. merapikan bagian ujung stump menggunakan router
26. Membuat mangkok ujung stump dari spons
27. menyetak gambar ujung stump pada spons
28. menandai anterior dan posteriornya
E. LAMINASI
• Alat dan Bahan
Alat
1. Ragum
2. Mesin vacum
3. Corong
4. Gelas ukur
5. Gelas pencampur
6. Isolasi
7. Gunting
8. Cutter
Bahan
1. Resin
2. Serat fiber
3. Kain perca
4. Benang
5. Plastik pvc
6. Bedak
7. Tinner
• Alat Pelindung Diri
1. Masker
2. Werpack
• Pembuatan Potongan Plastik PVC
1. Mengukur lingkar terbesar dan terkecil stump, serta panjang dari lingkar terbesar sampai lingkar terkecil tersebut
a. Membuat pola pada plastic PVC :
2. Lebar bagian atas sesuai ukuran lingkar terbesar stump dan lebar bagian bawah sesuai ukuran lingkar terkecil stump
3. Panjang pola agak lebih panjang dari titik lingkar terbesar stump sampai titik lingkar terkecil stump dengan penambahan panjang bagian atas 5cm dan bawah 15cm.
4. Pola bagian samping kanan dan kiri masing-masing diukur kedalam pola sekitar 1,5 cm digunakan untuk menyatukan pola sehingga membentuk bangun ruang.
5. Potong plastic sesuai pola yang telah digambar.
6. Setrika pola plastic yang telah di potong untuk merekatkan kedua bagian.
7. Setrika hanya pada bagian potongan kedua bagian (perekatan) sampai warna tersebut putih.
DOKUMENTASI
a.
Pembuatan Hard Socket
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Letakkan positif gips pada ragum
3. Melapisi positif gips dengan stoking/ kaos kaki.
4. Memasang lapisan plastik pertama. Ini dilakukan agar nanti permukaan dalam soket rata/halus.
5. Memasang kain/stokinet pada positif gips. Biasanya lapisan pertama ini 2 kain.
6. Memberi lapisan serat fiber secara menyeluruh dan rata pada positif gips. Kemudian mengikat/ mengunci serat fiber dengan menggunakan benang.
7. Memasang lapisan terakhir kain, biasanya 2 lapis atau 3 lapis tergantung kebutuhan.
8. Dan yang terakhir memasang plastik pvc yang telah dibentuk dan yang sudah di rendam tineer.
9. Nyalakan mesin vacum dan cek semua bagian positif gips, apakah semua bagian sudah fix sesuai bentuknya
10. Mempersiapkan resin dan kemudian mencampur resin dengan katalis pada suatu wadah.
11. Menuangkan campuran resin tersebut ke positip gips yang sudah siap tadi
12. Bila resin sudah masuk semua kemudian ratakan resin ke seluruh bagian positif gips dengan menggunakan kain perca.
13. Pastikan semua bagian terkena resin secara merata dan meresap sampai lapisan dalam.
F. Pembuatan Panel Opening
Prostheses dengan panel opening biasanya terbuat dari plastik, baik polypropylene atau paling sering laminasi GPR (glass reinforced plastic). Tipe kuno prostesis terbuat dari kulit dan baja.
Pembuatan panel opening kali ini kami menggunakan polypoprilene
Polypropylene menjadi lebih populer, karena teknik pembuatan yang mudah dan biaya bahan murah. namun bukan bahan yg terbaik karena fleksibilitas yang tinggi dari materi itu akan menciptakan bentuk melengkung di tepi stump. Selain itu juga sulit untuk menempatkan panel secara akurat
Alat dan bahan :
Alat :
1. Oven
2. Cus cutter
3. Besi lancip
Bahan :
1. Polypoprilene
Langkah – langkah pembuatan :
1. Membuat pola pada hard soket , kali ini kami membuat panel opening pada sisi medial
2. Memotong bagian yang sudah berpola menggunakan cus cutter , dengan hari hati agar tidak merusak soft soket didalamnya.
3. Setelah hard soket pada pola panel opening tersebut dapat terbuka , langkah selanjutnya adalah menggunakan polypoprilene yang telah dipotong sesuai ukuran .
4. Mengoven polypoprile selama 20 menit dengan suhu 180 derajat.
5. Meletakkan hard soket pada ragum
6. Setelah polypoprilene di oven, mencetak pada bagian medial hard soket yang telah dilubangi untuk di buat panel opening tersebut.
7. Membandage bagian panel opening tersebut hingga dingin
8. Setelah panel opening tersebut tercetak, langkah selanjutnya memotong sesuai pola untuk mencocokan disatukan dengan lubang panel opening pada hard soket.
G. Pembuatan foot untuk ankle disarticulation
Pembuatan foot kami lakukan bersama dengan materi material bahan , dosen pengampu adalah Dosen Dwi Setyawan, SST OP
Alat dan bahan :
Alat :
1. Gunting
2. Pensil
3. Penggaris
Bahan :
1. Spons hitam
2. Lem
Langkah - langkah pembuatan :
1. Memotong spons hitam , persegi panjang sebanyak tujuh buah
2. Mencetak gambaran garis foot teman pada spons hitam tersebut
3. Memotong sesuai pola foot tersebut
4. Merekatkan satu demi satu menggunakan lem , hingga bertumpuk tujuh buah spons.
5. Setelah terekat sempurna, merouter tepi dari foot tersebut hingga rata halus dan bagus.
6. Setelah itu melubangi foot , tumit bantal lebih rendah dari normal, sehingga ketinggian yang tepat dapat diperoleh.
H. Alignment
Bench alignment adalah proses Perakitan/ Pemasangan Komponen Prosthesis
untuk prosthesis dengan weight bearing di tendon pattela.
Langkah - langkah Bench Alignment :
1. Siapkan semua komponen yang
telah dibuat,mulai dari socket
(hard socket & soft socket) dan foot
2. Pada anterior socket gambarlah
garis tengah pada socket wall dari
tendon patela hingga area distal pada socket
3. Pada lateral socket gambarlah
garis tengah antara tendon
patella dan daerah popliteal
(antero-posterior pada socket)
hingga daerah distal stump.
Dan Buat garis fleksi 5˚ pada
lateral wall socket .
4. Letakkan hard socket lurus
pada meja sesuai garis
aligment dan cek blanko
ukur apakah stump
mengalami Adduksi maupun
Abduksi, maka Socket harus disesuaikan dengan blangko ukur
5. Setelah posisi hard socket sudah sesuai dengan stump, selanjutnya adalah pemasangan komponen dan perangkaian foot
6. Setelah diberi garis bagi medial lateral dan garis socket 5˚ fleksi, ambilah plum line/ pendulum dan pastikan garis tegak lurus jatuh pada 1/3 posterior foot
7. Pastikan landasan pada foot datar sehingga plumb line socket tegak lurus.
8. Posisi foot 5˚eksternal rotasi
Pastikan pemasangan foot sesuai dengan jatuhnya titik tumpu berat badan untuk mengurangi resiko gait deviasi
Setelah semua oke dan terpasang, pastikan komponen tersebut berdiri tegak lurus,
Senin, 21 Desember 2015
laporan knee disarticulation prosthesis
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Amputasi adalah pembedahan, memotong dan mengangkat tungkai atau lenganyang disebabkan oleh kecelakaan, congenital, infeksi, tumor, vascular disease.Amputasi merujuk pada pengangkatan semua atau sebagian ekstremitas.Saat melakukan amputasi, dokter bedah berupaya untuk menyelamatkan sebanyak mungkin jaringan yang masih dapat digunakan. Amputasi dikelompokkan menjadi 2 yaitu amputasi terbuka (guillotine) dan tertutup.Amputasi terbuka dilakukan untuk infeksi berat.Untuk amputasi tertutup, dokter bedah menutup luka dengan flap kulit yang dibuat dengan memotong tulang kira-kira dua inci lebih pendek dari pada kulit dan otot.Masalah yang sering muncul pasca operasi adalah infeksi, hemoragi, kontraktur dan emboli lemak.
Prosthetic merupakan Ilmu teknik di bidang medis yang mempelajari tentang pemeriksaan, pengukuran, pembuatan dan pengepasan alat pengganti anggota gerak tubuh yang hilang.Sedangkan prosthesismerupakan suatu alat yang ditambahkan ke ekstremitas untuk menggantikan anggota gerak tubuh karena amputasi maupun kongenital. Knee disarticulation prostesis adalah alat pengganti anggota gerak tubuh yang dipasangkan di luar tubuh, diperuntukkan bagi pasien dengan amputasi knee disarticulation atau through knee (tepat lutut).
B. TUJUAN
Tujuan dibuatnya laporan ini adalah untuk memenuhi tugas akhir dari mata kuliah Knee Disarticulation Prosthesis
BAB II
PENATALAKSANAAN
1. Assesment
Assesment adalah suatu rangkaian kegiatan terhadap pasien/klien yang mencakup tindakan anamnesa dan pemeriksaan untuk mengidentifikasi permasalahan yang nyata terhadap pasien/klien yang membutuhkan ortosis maupun prostesis , dengan cara memperhatikan riwayat penyakit, telah umum, uji khusus, pemeriksaan penunjang, pengukuran dilanjutkan dengan evaluasi hasil pemeriksaan melalui analisis dan sintesis dalam sebuah proses pertimbangan teknis dan klinis. Terbagi menjadi subjective dan objective
Alat :
1. Blanko assesment
2. Gornio meter
3. Alat tulis
4. Mid line
a. Subjective assesment
Pemeriksaan yang dilakukan dimana pasien yang menjadi subjek / bercerita tentang kehidupannya sehari – hari sebelum terjadinya amputasi.
Adapun pemeriksaan tersebut meliputi:
1. Nama pasien :
2. Tempat. Tanggal lahir :
3. Umur
4. Tinggi/berat badan :
5. Jenis kelamin :
6. Alamat :
7. Nomor Telp :
8. Pekerjaan :
9. Keadaan tempat tinggal :
10. Sebab amputasi :
b. Objective assesment
Pemeriksaan yang dilakukan dimana pasien yang menjadi objek, pemeriksaan.
Pemeriksaan obyektif : inspeksi, palpasi, pemeriksaan gerakan dasar, pemeriksaan LGS(Lingkup Gerak Sendi), pemeriksaan MMT (Manual Muscle Testing).
• Inspeksi : Pemeriksaan dilakukan dengan cara
melihat dan mengamati kondisi pasien.
• Palpasi : Pemeriksaan dilakukan dengan
cara meraba, memegang dan menekan bagian stump pasien.
• Pemeriksaan Gerak Dasar : Pemeriksaan gerak aktif, pasif
dan Isometik melawan tahanan.
• Pemeriksaan LGS : Mengetahui luas gerak sendi pada
stump.
• Pemeriksaan MMT : Mengetahui kekuatan otot stump
dengan kriteria 5-0
KRITERIA KEKUATAN OTOT
Untuk mengetahui nilai kekuatan otot terdapat kriteria :
• Nilai kekuatan 5 : Subyek mampu dengan LGS
(Lingkup Gerak Sendi) penuh dengan melawan tahanan maksimal dan melawan gravitasi.
• Nilai kekuatan 4 : Subyek mampu dengan LGS penuh,
melawan gravitasi dengan tahanan sedang.
• Nilai kekuatan 3 : Subyek mampu dengan LGS penuh dan
melawan gravitasi tanpa tahanan.
• Nilai kekuatan 2 : Subyek mampu bergerak dengan LGS
sebagian dan melawan gravitasi.
• Nilai kekuatan 1 : Subyek mampu mengkontraksikan, tetapi
tidak terjadi gerakan otot.
• Nilai kekuatan 0 : Subyek sama sekali tidak bisa
mengkontraksikan ototnya
Hasil pemeriksaan pasien
1. Kaki amputasi : kaki kiri
2. Kondisi stump : tidak ada luka , jahitannya rapi, stump kendor, tertutup sempurna, permukaan kulit tidak dislokasi, tidak ada neuroma, medium stump.
3. Level amputasi : midle amputasi
ROM MMT
RIGHT LEFT RIGHT LEFT
HIP Flexion 100 100 5 4
Extension 20 20 5 4
Abduction 45 60 5 4
Adduction 30 25 5 4
KNEE Flexion 130 - 5 -
Extension 5 - 5 -
ANKLE Dorsal flexion 10 - 5 -
Plantar flexion 40 - 5 -
SUB TALAR Eversion - - 5 -
Inversion - - 5 -
Prescpription :
Socket interfance : soft liner
Socket design : distal end socket
Foot : sach foot
Suspension : belt suspension
Hasil Blanko Assesment Pasien
Terlampir
2. MEARSURMENT
Measurement merupakan proses pengukuran detail pada stump pasien. Bertujuan untuk mendapatkan data dalam bentuk ukuran stump pasien dan akan menjadi patokan dalam pembuatan socket.
a. Alat & Bahan
1. Blangko pengukuran
2. Alat tulis
3. Stockinet
4. Pensil Air
5. Mid line
6. Caliper
7. Mistar
b. Proses Measurement
Pada stump :
1. memakaikan stocking pada stump pasien
2. mengikatkan tali rafia sebagai pengikat stoking agar tidak terlepas saat melakukan measurement dan casting, tepatnya dari anterior mengelilingi sampai bagian posterior.
3. menandai stump pada area berikut :
o Trochantor mayor
o Sisi medial stump, yaitu 5 cm (2 inchi) di bawah perineum
o Outline the distal end
o Design socket
o Sisa deformitas yang lain
4. melakukan pengkuran pada stump dan sound leg.
5. Pengukuran pada stump :
6. Panjang stump
o Diukur dari ischial tuberosity hingga distal end of the stump.
o Diukur dari ischial tuberosity hingga distal end of the femur.
7. Keliling stump
o Keliling perineal level
o Keliling setiap interval
8. Diameter medio – lateral stump (jarak trochantor mayor hingga origo dari tendon adductor longus)diukur saat pasien duduk.
Diameter anterior – posterior stump (jarak vertikal dari permukaan kursi hingga tendon adductor longus) diukur saat pasien duduk.
mengukuran pada sound leg :
Pasien dalam posisi berdiri
o Panjang sound leg dari ischial tuberosity sampai ke lantai
Pasien dalam posisi duduk
o Jarak medial tibial plateu ke lantai
o Keliling medial tibial plateu
o Keliling dan tinggi tungkai terbesar
o Keliling dan tinggi tungkai terkecil
o Panjang foot
o Tinggi heel sepatu yang digunakan pasien
3. CASTING PASIEN
Alat dan Bahan :
1. Jas lab
2. Blanko assesment
3. Blanko ukur
4. Gorniometer
5. Alat tulis
6. Midline
7. Pensil air
8. Tali rapia
9. Ember
10. Kamera
11. Cutter
12. Kursi pasien
13. Bad pemeriksaan
14. Gip roll
15. Stokinet
16. Gunting
Langkah-langkah pengerjaan :
1. Memasang stokinet pada stump pasien
2. Menandai pada bagian
a. Trochantor
b. Adductor longus tendon
c. Patella (jika ada)
d. Femural condile dan epicondile
e. Hamstring tendon
f. Intercondile fossa
g. Bony prominence dan luka
3. Mengambil pengukuran circumduction
4. Memasangkan selang di pada stump agar mudah saat mencopot hasil casting
5. Merendam gips roll ke dalam air
6. membalut sepertiga distal stump 3-4 lapis POP, minta pasien menumpu pd casting stand. (end bearing)
7. membentuk dan massage area supracondylar
8. Lanjutkan membalut hingga proximal end. Balut hingga perineum pada medial wall dan trokantor mayor pada lateral wall. Kemudian flatkan pada medial wall.
9. Beri garis plumb line pada anterior dan lateral. Setelah diberi penandaan, potong dengan cutter atau gunting gyp. Cor negatif gyp dengan posisi tangkai sesuai garis plumb line.
a. Checking the cast
Ketika negative cast terbentuk atau sudah jadi. Pastikan negative cast sesuai/cocok sebelum pasien membersihkan diri dan pulang.
Hal-hal yang perlu di cek :
• Kekuatan umum negative cast.
• Posisi tanda pada stump.
• Anterior-posterior dan medio-lateral diameter.
• Top circumference.
• Panjang cast.
• Bentuk umum cast
4. FILLING
Filling yaitu proses pengecoranyang bertujuan untuk mendapatkan positif gips.
a. Alat dan bahan :
1. Ember + Air
2. Bak pasir
3. Gips powder
4. Besi yang telahdipotong
5. Air sabun
6. POP
b. Proses pengecoran :
1. Balutkembalidengan pop padabagianproksimal negative cast yang telah di trimline, sebelummelakukanpengecoran.
2. Menyiapkantempatyang berisipasirsebagaitempatmenanamgips.
3. Membasuh negative gipsdenganmenggunakan air sabun, janganterlalubanyakdanjanganterlalusedikit.
4. Memasukkan air kedalam negative gipskemudianmenuangkannyakedalam ember sebagaitakaran air yang akandigunakanuntuk proses pengecoran.
5. Memasukkangips powderpadatakaran air danmenunggugelumbunggips powderhilang, kemudianmengadukgipsdengan rata.
6. Dengancepattuangkanadonangipskedalam negative castdanmenancapkanbesisampaiujungkemudianbesitersebutagakdiangkatsedikit.
7. Menunggugipssampaikering.
5. RECTRIFICATION
Rektifikasi adalah proses pengurangan dan penambahan pada area tertentu di positif gip agar saat pembuatan soket dapat fit dengan stump. Sering juga disebut dengan proses modifikasi positif gips.
a. Alat dan Bahan:
• Alat:
1. Ragum
2. Cutter
3. Pensil air
4. Blangko
5. Alat tulis
6. Caliper
7. Midline
8. Surform / plantar gips
9. Sikat pembersih
10. Paku
11. Palu
12. Mangkok gips
13. spatula
14. Gelas aqua
15. Kawat kasa
16. Tempat sampah
• Bahan:
1. Negatif cast
2. Gips powder
3. Air
4. Pewarna
Langkah – langkah :
1. membuat garis tengah pada negatif cast dengan plumb line.
2. membersihkan gips , merapikan dan menandai kembali.
3. Mengukur ulang negatif gip sesuai blangko measurement.
1. Rectifikasi dinding medial-proximal
Area ini harus dibuat rata mengikuti garis progresi, dan menghindari tekanan pada bagian atas dan tepi.
Perhatikan rotasi antara dinding medial proximal dan bentuk segitiga dari patella dan epicondyles
Untuk socket tanpa quadrilateral brim, tinggi medial dapat dibuat 5cm di bawah level dari ichial tuberosity
2. Rectifikasi dinding Lateral-proximal
Area ini juga harus dibuat rata tapi masih memberikan ruang bagi greater trochanter, dan membuat tekanan menjadi rata.
Pastikan diameter M – L sudah benar
Untuk socket tanpa quadrilateral brim, tinggi dari dinding lateral dapat dibuat selevel dengan greater trochanter
3. Rectifikasi dinding Anterior-Proximal
Pada area ini harus dibentuk seperti area scarpas dari transfemoral cast, akan tetapi bentuk nya tidak harus terlalu jelas atau menonjol jika weight bearing tidak pada ichial seat
Untuk socket tanpa quadrilateral brim, tepi anterior proximal dapat dibentuk lebih bulat.
4. Rectifikasi dinding Posterior –proximal
Area ini harus dibuat rata untuk memberikan kenyamanan saat duduk dan mencegah tekanan pada bagian atas dan tepi
5. Pengurangan pada bagian supracondylar
Untuk socket tanpa ichial weight bearing, area supracondylar dikurangi guna memberikan suspensi pada socket. Diameter M-L saat finishing harus sama dengan pengukuran stump pada saat casting.
Pada bagian atas epicondyles pengurangan dibuat runcing,
Untuk socket dengan ichial weight bearing, area supracondyler tidak dikurangi.
Cast build ups :
1. Trim line socket tanpa quadrilateral brim
Bagian medial, tidak boleh lebih dari 5cm di bawah ichial tuberosity.
Anterior lateral harus lebih tinggi daripada medial dan posterior.
Anterior lateral dibuat sedikit lebih tinggi dari medial posterior.
Bagian anterior, medial, dan posterior dibuat flare.
2. Penambahan pada Medial dan lateral epicondiles
Penambahan pada bagian epicondylus
Jika stump berupa tulang, penambahan lebih besar daripada stump yang berupa jaringan lunak.
Penambahan bagian distal dan proximal yang dibentuk menyerupai persegi
Ketika melakukan penambahan pada bagian lateral dan medial harus mengikuti lengkung proximal dari epicondyles
Yang harus diperhatikan adalah menghindari tekanan pd adductor tubercle.
3.Penambahan pada bagian posterior dari condyles
Area posterior dari condyles ditambah sedikit
Jika hamstring tendons menonjol, perlu dlakukan penambahan guna memberikan ruang untuk muscle action,
Jika intercondylar tidak ditemukan bagian yang sensitiv, penambahan tetap dilakukan
6. PROSES PEMBUATAN MAL
Proses pembuatan mal bertujuan untuk mempermudah dalam proses pemotongan PVC.
a. Alat dan bahan :
1. Penggaris besi
2. Cutter / Gunting
3. Spidol
4. Kertas Koran
5. Plastic PVC
b. Prosesnya Pemotongan Mal
1. Ukur panjang stump
2. Ukur lingkar terbesar dan terkecil pada stump.
3. Gambarkan pada kertas koran.
4. Potong kertas koran sesuai ukuran
c. Proses pemotongan PVC
1. Letakkan mal diatas plastic PVC.
2. Pemotongan mengikuti baris dan dari mal, menggunakan penggaribesi, dan cutter
7. LAMINASI
Laminasi adalah proses pencetakan hard socket dengan menggunakan bahan utama yaitu resin dan katalis.
a. alat dan bahan
1. Plastik PVC
2. Setrika
3. Tinner
4. Ragum
5. Positive cast
6. Bedak
7. Stockinet
8. Serat Fiber
9. Lakban
10. Talirafia
11. Botol aqua
12. Corong
13. Resin
14. Catalys
15. Pengaduk
16. Kain untuk meratakan resin
a. Langkah – Langkah Pembuatan Hard socket
1. Mengukur positif gips untuk pembuatan plastic PVC . Yang diukur antara lain :
Circumference terbesar = cm
Circumference terkecil= cm
Panjang positif cast =
2. Kemudian plastic dilekatkan dengan cara menyetrika sehingga plastic tersebut berbentuk kerucut.
3. Masukkan stockinet kedalam positif cast agar permukaan rata.
4. Memberi thiner pada plastic pertama agar plastic lebih lentur dan masukkan kepositif cast
5. Plaster pada bagian proksimal dan distal sehingga terlihat rapi.
6. Setelah memasukkan plastik lalu memasang stockinet sebanyak 2 lapis
7. Kemudian memotong serat fiber .Setelah dipotong serat fiber dilingkarkan pada positive gif dan ditali dengan benang nylon.
8. Selanjutnya memasang stockinet lagi 1 lapis.
9. Memotong fiber untuk tutup. Dan memasang stockinet lagi sebanyak 2 lapis.
10. Kemudian memasukkan plastik PVC lagi yang dibuat sepperti yang pertama (seperti pada gambar)telah sudah diberi thinner.
11. Lalu membuat latrutan resin dengan takaran 500 ml resin ,catalis 2 ml
12. Kemudian adonan resin dituangkan ke positive gif yang akan diresin melalui corong .
13. Setelah resin semuanya dituangkan lalu ratakan sampai kebawah sehingga resin tersebut rata pada positive gif.
14. Kemudian massage.
15. Tunggu sampai benar-benar resin tersebut keras
16. Setelah resin keras, potong hard socket sesuai trimline
17. Setelah itu positive gifnya dipecahkan sehingga soft socketnya dan hard socketnya dapat diambil
18. Apabila trimline sudah sesuai, haluskan dan rapikan pula bagian ujung soket yang tidak rata agar bias dipasangkan adaptor socket
8. ALIGNMENT
Alignment yg dilakukan tanpa pasien,dimulaidengan proses pemasangan komponen padaprosthesis.
a. Alat & Bahan :
1. Spidol
2. Plumbline
3. Penggaris
4. Kunci L
5. Malam
6. Mesin Bur
7. Mur danbaut
8. socket adaptor
9. free knee joint
10. tube adaptor
11. tube clamp assembly
12. foot adaptor
13. sach foot kiri ukuran 23
14. selisian belt
langkah – langkah :
a. bench alignment (assembling / merakit)
Bench alignment pada Knee disarticulation prosthesis hampir sama dengan prosthesis transfemoral . konsep dasarnya sama, hanya ada sedikit perbedaan. Perbedaan itu dapat dilihat pada:
Socket Angles
Knee Stability
Knee joint Height
Knee joint rotation
Foot rotation
Plumb linea
b. Static alignment
Static alignment dilaksanakan ketika pasien dalam keadaan berdiri. Tujuannya adalah untuk meyakinkan bahwa prosthesis stabil dan nyaman. Tiga hal utama untuk mengecheck kefitan prosthesis adalah dari soket, panjang prosthesis, dan alignment.
Pengecekan :
Ketinggian
Kenyamanan
Fit
Suspensi
Trimline
Prosedur:
1. Lihat pasien berjalan menggunakan prosthesis yang lama. Apakah ada perubahan pada stump ketika pasien menggunakan prosthesis yang lama
2. Membantu memakaikan prostesis kemudian mintalah pasien untuk berdiri
3. Memeriksa ketinggian prostesis
4. Memeriksa socket prostesis
5. Memeriksa alignmentnya
c. Dinamik alignment
Gait deviasi dari pasien knee disarticulation dan prosedur untuk mengecheck dan mengoreksinya berada di tahap ini. Pada dasarnya sama dengan pasien transfemoral dengan stump yang kuat dan panjang.
Check: keseimbangan pasien dan meminta pasien berdiri dengan satu kaki , berjalan maju mundur
Prosedur:
1. Memeriksa pola berjalan pasien
2. Memeriksa kembali alignment sebelum memproses tahap terakhir
3. Menanyakan kembali kenyamanan socket pada pasien
-socket problem (takok haidar)
Pada saat Fitting
1. Prosthesis terlalu tinggi 2,3 cm , penyelesaian : tube di ganti
2. Brim anterior terlalu besar 2 cm , penyelesaian dikurangi 2,5-3 cm
3. Pasien susah flexi karena takut , TKA terlalu jauh dari anterior
Perbandingan
Prosthesis lama
1. Ringan
2. Nyaman karena sudah terbiasa Prosthesis baru
1. Berat
2. Mulai merasa nyaman
3. Knee joint terlalu berat
4. Misal pasien terbiasa memakai akan nyaman saat dipakai
5. Pasien memberi nilai 7
6. soket variation
desain suspensi yang di pakai pasian kami : supracondylar
tumpuan berada : end of stump
desain socket push fit dengan silesian belt
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Knee disarticulation prostesis adalah alat pengganti anggota gerak tubuh yang dipasangkan di luar tubuh, diperuntukkan bagi pasien dengan amputasi knee disarticulation atau through knee (tepat lutut).
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Amputasi adalah pembedahan, memotong dan mengangkat tungkai atau lenganyang disebabkan oleh kecelakaan, congenital, infeksi, tumor, vascular disease.Amputasi merujuk pada pengangkatan semua atau sebagian ekstremitas.Saat melakukan amputasi, dokter bedah berupaya untuk menyelamatkan sebanyak mungkin jaringan yang masih dapat digunakan. Amputasi dikelompokkan menjadi 2 yaitu amputasi terbuka (guillotine) dan tertutup.Amputasi terbuka dilakukan untuk infeksi berat.Untuk amputasi tertutup, dokter bedah menutup luka dengan flap kulit yang dibuat dengan memotong tulang kira-kira dua inci lebih pendek dari pada kulit dan otot.Masalah yang sering muncul pasca operasi adalah infeksi, hemoragi, kontraktur dan emboli lemak.
Prosthetic merupakan Ilmu teknik di bidang medis yang mempelajari tentang pemeriksaan, pengukuran, pembuatan dan pengepasan alat pengganti anggota gerak tubuh yang hilang.Sedangkan prosthesismerupakan suatu alat yang ditambahkan ke ekstremitas untuk menggantikan anggota gerak tubuh karena amputasi maupun kongenital. Knee disarticulation prostesis adalah alat pengganti anggota gerak tubuh yang dipasangkan di luar tubuh, diperuntukkan bagi pasien dengan amputasi knee disarticulation atau through knee (tepat lutut).
B. TUJUAN
Tujuan dibuatnya laporan ini adalah untuk memenuhi tugas akhir dari mata kuliah Knee Disarticulation Prosthesis
BAB II
PENATALAKSANAAN
1. Assesment
Assesment adalah suatu rangkaian kegiatan terhadap pasien/klien yang mencakup tindakan anamnesa dan pemeriksaan untuk mengidentifikasi permasalahan yang nyata terhadap pasien/klien yang membutuhkan ortosis maupun prostesis , dengan cara memperhatikan riwayat penyakit, telah umum, uji khusus, pemeriksaan penunjang, pengukuran dilanjutkan dengan evaluasi hasil pemeriksaan melalui analisis dan sintesis dalam sebuah proses pertimbangan teknis dan klinis. Terbagi menjadi subjective dan objective
Alat :
1. Blanko assesment
2. Gornio meter
3. Alat tulis
4. Mid line
a. Subjective assesment
Pemeriksaan yang dilakukan dimana pasien yang menjadi subjek / bercerita tentang kehidupannya sehari – hari sebelum terjadinya amputasi.
Adapun pemeriksaan tersebut meliputi:
1. Nama pasien :
2. Tempat. Tanggal lahir :
3. Umur
4. Tinggi/berat badan :
5. Jenis kelamin :
6. Alamat :
7. Nomor Telp :
8. Pekerjaan :
9. Keadaan tempat tinggal :
10. Sebab amputasi :
b. Objective assesment
Pemeriksaan yang dilakukan dimana pasien yang menjadi objek, pemeriksaan.
Pemeriksaan obyektif : inspeksi, palpasi, pemeriksaan gerakan dasar, pemeriksaan LGS(Lingkup Gerak Sendi), pemeriksaan MMT (Manual Muscle Testing).
• Inspeksi : Pemeriksaan dilakukan dengan cara
melihat dan mengamati kondisi pasien.
• Palpasi : Pemeriksaan dilakukan dengan
cara meraba, memegang dan menekan bagian stump pasien.
• Pemeriksaan Gerak Dasar : Pemeriksaan gerak aktif, pasif
dan Isometik melawan tahanan.
• Pemeriksaan LGS : Mengetahui luas gerak sendi pada
stump.
• Pemeriksaan MMT : Mengetahui kekuatan otot stump
dengan kriteria 5-0
KRITERIA KEKUATAN OTOT
Untuk mengetahui nilai kekuatan otot terdapat kriteria :
• Nilai kekuatan 5 : Subyek mampu dengan LGS
(Lingkup Gerak Sendi) penuh dengan melawan tahanan maksimal dan melawan gravitasi.
• Nilai kekuatan 4 : Subyek mampu dengan LGS penuh,
melawan gravitasi dengan tahanan sedang.
• Nilai kekuatan 3 : Subyek mampu dengan LGS penuh dan
melawan gravitasi tanpa tahanan.
• Nilai kekuatan 2 : Subyek mampu bergerak dengan LGS
sebagian dan melawan gravitasi.
• Nilai kekuatan 1 : Subyek mampu mengkontraksikan, tetapi
tidak terjadi gerakan otot.
• Nilai kekuatan 0 : Subyek sama sekali tidak bisa
mengkontraksikan ototnya
Hasil pemeriksaan pasien
1. Kaki amputasi : kaki kiri
2. Kondisi stump : tidak ada luka , jahitannya rapi, stump kendor, tertutup sempurna, permukaan kulit tidak dislokasi, tidak ada neuroma, medium stump.
3. Level amputasi : midle amputasi
ROM MMT
RIGHT LEFT RIGHT LEFT
HIP Flexion 100 100 5 4
Extension 20 20 5 4
Abduction 45 60 5 4
Adduction 30 25 5 4
KNEE Flexion 130 - 5 -
Extension 5 - 5 -
ANKLE Dorsal flexion 10 - 5 -
Plantar flexion 40 - 5 -
SUB TALAR Eversion - - 5 -
Inversion - - 5 -
Prescpription :
Socket interfance : soft liner
Socket design : distal end socket
Foot : sach foot
Suspension : belt suspension
Hasil Blanko Assesment Pasien
Terlampir
2. MEARSURMENT
Measurement merupakan proses pengukuran detail pada stump pasien. Bertujuan untuk mendapatkan data dalam bentuk ukuran stump pasien dan akan menjadi patokan dalam pembuatan socket.
a. Alat & Bahan
1. Blangko pengukuran
2. Alat tulis
3. Stockinet
4. Pensil Air
5. Mid line
6. Caliper
7. Mistar
b. Proses Measurement
Pada stump :
1. memakaikan stocking pada stump pasien
2. mengikatkan tali rafia sebagai pengikat stoking agar tidak terlepas saat melakukan measurement dan casting, tepatnya dari anterior mengelilingi sampai bagian posterior.
3. menandai stump pada area berikut :
o Trochantor mayor
o Sisi medial stump, yaitu 5 cm (2 inchi) di bawah perineum
o Outline the distal end
o Design socket
o Sisa deformitas yang lain
4. melakukan pengkuran pada stump dan sound leg.
5. Pengukuran pada stump :
6. Panjang stump
o Diukur dari ischial tuberosity hingga distal end of the stump.
o Diukur dari ischial tuberosity hingga distal end of the femur.
7. Keliling stump
o Keliling perineal level
o Keliling setiap interval
8. Diameter medio – lateral stump (jarak trochantor mayor hingga origo dari tendon adductor longus)diukur saat pasien duduk.
Diameter anterior – posterior stump (jarak vertikal dari permukaan kursi hingga tendon adductor longus) diukur saat pasien duduk.
mengukuran pada sound leg :
Pasien dalam posisi berdiri
o Panjang sound leg dari ischial tuberosity sampai ke lantai
Pasien dalam posisi duduk
o Jarak medial tibial plateu ke lantai
o Keliling medial tibial plateu
o Keliling dan tinggi tungkai terbesar
o Keliling dan tinggi tungkai terkecil
o Panjang foot
o Tinggi heel sepatu yang digunakan pasien
3. CASTING PASIEN
Alat dan Bahan :
1. Jas lab
2. Blanko assesment
3. Blanko ukur
4. Gorniometer
5. Alat tulis
6. Midline
7. Pensil air
8. Tali rapia
9. Ember
10. Kamera
11. Cutter
12. Kursi pasien
13. Bad pemeriksaan
14. Gip roll
15. Stokinet
16. Gunting
Langkah-langkah pengerjaan :
1. Memasang stokinet pada stump pasien
2. Menandai pada bagian
a. Trochantor
b. Adductor longus tendon
c. Patella (jika ada)
d. Femural condile dan epicondile
e. Hamstring tendon
f. Intercondile fossa
g. Bony prominence dan luka
3. Mengambil pengukuran circumduction
4. Memasangkan selang di pada stump agar mudah saat mencopot hasil casting
5. Merendam gips roll ke dalam air
6. membalut sepertiga distal stump 3-4 lapis POP, minta pasien menumpu pd casting stand. (end bearing)
7. membentuk dan massage area supracondylar
8. Lanjutkan membalut hingga proximal end. Balut hingga perineum pada medial wall dan trokantor mayor pada lateral wall. Kemudian flatkan pada medial wall.
9. Beri garis plumb line pada anterior dan lateral. Setelah diberi penandaan, potong dengan cutter atau gunting gyp. Cor negatif gyp dengan posisi tangkai sesuai garis plumb line.
a. Checking the cast
Ketika negative cast terbentuk atau sudah jadi. Pastikan negative cast sesuai/cocok sebelum pasien membersihkan diri dan pulang.
Hal-hal yang perlu di cek :
• Kekuatan umum negative cast.
• Posisi tanda pada stump.
• Anterior-posterior dan medio-lateral diameter.
• Top circumference.
• Panjang cast.
• Bentuk umum cast
4. FILLING
Filling yaitu proses pengecoranyang bertujuan untuk mendapatkan positif gips.
a. Alat dan bahan :
1. Ember + Air
2. Bak pasir
3. Gips powder
4. Besi yang telahdipotong
5. Air sabun
6. POP
b. Proses pengecoran :
1. Balutkembalidengan pop padabagianproksimal negative cast yang telah di trimline, sebelummelakukanpengecoran.
2. Menyiapkantempatyang berisipasirsebagaitempatmenanamgips.
3. Membasuh negative gipsdenganmenggunakan air sabun, janganterlalubanyakdanjanganterlalusedikit.
4. Memasukkan air kedalam negative gipskemudianmenuangkannyakedalam ember sebagaitakaran air yang akandigunakanuntuk proses pengecoran.
5. Memasukkangips powderpadatakaran air danmenunggugelumbunggips powderhilang, kemudianmengadukgipsdengan rata.
6. Dengancepattuangkanadonangipskedalam negative castdanmenancapkanbesisampaiujungkemudianbesitersebutagakdiangkatsedikit.
7. Menunggugipssampaikering.
5. RECTRIFICATION
Rektifikasi adalah proses pengurangan dan penambahan pada area tertentu di positif gip agar saat pembuatan soket dapat fit dengan stump. Sering juga disebut dengan proses modifikasi positif gips.
a. Alat dan Bahan:
• Alat:
1. Ragum
2. Cutter
3. Pensil air
4. Blangko
5. Alat tulis
6. Caliper
7. Midline
8. Surform / plantar gips
9. Sikat pembersih
10. Paku
11. Palu
12. Mangkok gips
13. spatula
14. Gelas aqua
15. Kawat kasa
16. Tempat sampah
• Bahan:
1. Negatif cast
2. Gips powder
3. Air
4. Pewarna
Langkah – langkah :
1. membuat garis tengah pada negatif cast dengan plumb line.
2. membersihkan gips , merapikan dan menandai kembali.
3. Mengukur ulang negatif gip sesuai blangko measurement.
1. Rectifikasi dinding medial-proximal
Area ini harus dibuat rata mengikuti garis progresi, dan menghindari tekanan pada bagian atas dan tepi.
Perhatikan rotasi antara dinding medial proximal dan bentuk segitiga dari patella dan epicondyles
Untuk socket tanpa quadrilateral brim, tinggi medial dapat dibuat 5cm di bawah level dari ichial tuberosity
2. Rectifikasi dinding Lateral-proximal
Area ini juga harus dibuat rata tapi masih memberikan ruang bagi greater trochanter, dan membuat tekanan menjadi rata.
Pastikan diameter M – L sudah benar
Untuk socket tanpa quadrilateral brim, tinggi dari dinding lateral dapat dibuat selevel dengan greater trochanter
3. Rectifikasi dinding Anterior-Proximal
Pada area ini harus dibentuk seperti area scarpas dari transfemoral cast, akan tetapi bentuk nya tidak harus terlalu jelas atau menonjol jika weight bearing tidak pada ichial seat
Untuk socket tanpa quadrilateral brim, tepi anterior proximal dapat dibentuk lebih bulat.
4. Rectifikasi dinding Posterior –proximal
Area ini harus dibuat rata untuk memberikan kenyamanan saat duduk dan mencegah tekanan pada bagian atas dan tepi
5. Pengurangan pada bagian supracondylar
Untuk socket tanpa ichial weight bearing, area supracondylar dikurangi guna memberikan suspensi pada socket. Diameter M-L saat finishing harus sama dengan pengukuran stump pada saat casting.
Pada bagian atas epicondyles pengurangan dibuat runcing,
Untuk socket dengan ichial weight bearing, area supracondyler tidak dikurangi.
Cast build ups :
1. Trim line socket tanpa quadrilateral brim
Bagian medial, tidak boleh lebih dari 5cm di bawah ichial tuberosity.
Anterior lateral harus lebih tinggi daripada medial dan posterior.
Anterior lateral dibuat sedikit lebih tinggi dari medial posterior.
Bagian anterior, medial, dan posterior dibuat flare.
2. Penambahan pada Medial dan lateral epicondiles
Penambahan pada bagian epicondylus
Jika stump berupa tulang, penambahan lebih besar daripada stump yang berupa jaringan lunak.
Penambahan bagian distal dan proximal yang dibentuk menyerupai persegi
Ketika melakukan penambahan pada bagian lateral dan medial harus mengikuti lengkung proximal dari epicondyles
Yang harus diperhatikan adalah menghindari tekanan pd adductor tubercle.
3.Penambahan pada bagian posterior dari condyles
Area posterior dari condyles ditambah sedikit
Jika hamstring tendons menonjol, perlu dlakukan penambahan guna memberikan ruang untuk muscle action,
Jika intercondylar tidak ditemukan bagian yang sensitiv, penambahan tetap dilakukan
6. PROSES PEMBUATAN MAL
Proses pembuatan mal bertujuan untuk mempermudah dalam proses pemotongan PVC.
a. Alat dan bahan :
1. Penggaris besi
2. Cutter / Gunting
3. Spidol
4. Kertas Koran
5. Plastic PVC
b. Prosesnya Pemotongan Mal
1. Ukur panjang stump
2. Ukur lingkar terbesar dan terkecil pada stump.
3. Gambarkan pada kertas koran.
4. Potong kertas koran sesuai ukuran
c. Proses pemotongan PVC
1. Letakkan mal diatas plastic PVC.
2. Pemotongan mengikuti baris dan dari mal, menggunakan penggaribesi, dan cutter
7. LAMINASI
Laminasi adalah proses pencetakan hard socket dengan menggunakan bahan utama yaitu resin dan katalis.
a. alat dan bahan
1. Plastik PVC
2. Setrika
3. Tinner
4. Ragum
5. Positive cast
6. Bedak
7. Stockinet
8. Serat Fiber
9. Lakban
10. Talirafia
11. Botol aqua
12. Corong
13. Resin
14. Catalys
15. Pengaduk
16. Kain untuk meratakan resin
a. Langkah – Langkah Pembuatan Hard socket
1. Mengukur positif gips untuk pembuatan plastic PVC . Yang diukur antara lain :
Circumference terbesar = cm
Circumference terkecil= cm
Panjang positif cast =
2. Kemudian plastic dilekatkan dengan cara menyetrika sehingga plastic tersebut berbentuk kerucut.
3. Masukkan stockinet kedalam positif cast agar permukaan rata.
4. Memberi thiner pada plastic pertama agar plastic lebih lentur dan masukkan kepositif cast
5. Plaster pada bagian proksimal dan distal sehingga terlihat rapi.
6. Setelah memasukkan plastik lalu memasang stockinet sebanyak 2 lapis
7. Kemudian memotong serat fiber .Setelah dipotong serat fiber dilingkarkan pada positive gif dan ditali dengan benang nylon.
8. Selanjutnya memasang stockinet lagi 1 lapis.
9. Memotong fiber untuk tutup. Dan memasang stockinet lagi sebanyak 2 lapis.
10. Kemudian memasukkan plastik PVC lagi yang dibuat sepperti yang pertama (seperti pada gambar)telah sudah diberi thinner.
11. Lalu membuat latrutan resin dengan takaran 500 ml resin ,catalis 2 ml
12. Kemudian adonan resin dituangkan ke positive gif yang akan diresin melalui corong .
13. Setelah resin semuanya dituangkan lalu ratakan sampai kebawah sehingga resin tersebut rata pada positive gif.
14. Kemudian massage.
15. Tunggu sampai benar-benar resin tersebut keras
16. Setelah resin keras, potong hard socket sesuai trimline
17. Setelah itu positive gifnya dipecahkan sehingga soft socketnya dan hard socketnya dapat diambil
18. Apabila trimline sudah sesuai, haluskan dan rapikan pula bagian ujung soket yang tidak rata agar bias dipasangkan adaptor socket
8. ALIGNMENT
Alignment yg dilakukan tanpa pasien,dimulaidengan proses pemasangan komponen padaprosthesis.
a. Alat & Bahan :
1. Spidol
2. Plumbline
3. Penggaris
4. Kunci L
5. Malam
6. Mesin Bur
7. Mur danbaut
8. socket adaptor
9. free knee joint
10. tube adaptor
11. tube clamp assembly
12. foot adaptor
13. sach foot kiri ukuran 23
14. selisian belt
langkah – langkah :
a. bench alignment (assembling / merakit)
Bench alignment pada Knee disarticulation prosthesis hampir sama dengan prosthesis transfemoral . konsep dasarnya sama, hanya ada sedikit perbedaan. Perbedaan itu dapat dilihat pada:
Socket Angles
Knee Stability
Knee joint Height
Knee joint rotation
Foot rotation
Plumb linea
b. Static alignment
Static alignment dilaksanakan ketika pasien dalam keadaan berdiri. Tujuannya adalah untuk meyakinkan bahwa prosthesis stabil dan nyaman. Tiga hal utama untuk mengecheck kefitan prosthesis adalah dari soket, panjang prosthesis, dan alignment.
Pengecekan :
Ketinggian
Kenyamanan
Fit
Suspensi
Trimline
Prosedur:
1. Lihat pasien berjalan menggunakan prosthesis yang lama. Apakah ada perubahan pada stump ketika pasien menggunakan prosthesis yang lama
2. Membantu memakaikan prostesis kemudian mintalah pasien untuk berdiri
3. Memeriksa ketinggian prostesis
4. Memeriksa socket prostesis
5. Memeriksa alignmentnya
c. Dinamik alignment
Gait deviasi dari pasien knee disarticulation dan prosedur untuk mengecheck dan mengoreksinya berada di tahap ini. Pada dasarnya sama dengan pasien transfemoral dengan stump yang kuat dan panjang.
Check: keseimbangan pasien dan meminta pasien berdiri dengan satu kaki , berjalan maju mundur
Prosedur:
1. Memeriksa pola berjalan pasien
2. Memeriksa kembali alignment sebelum memproses tahap terakhir
3. Menanyakan kembali kenyamanan socket pada pasien
-socket problem (takok haidar)
Pada saat Fitting
1. Prosthesis terlalu tinggi 2,3 cm , penyelesaian : tube di ganti
2. Brim anterior terlalu besar 2 cm , penyelesaian dikurangi 2,5-3 cm
3. Pasien susah flexi karena takut , TKA terlalu jauh dari anterior
Perbandingan
Prosthesis lama
1. Ringan
2. Nyaman karena sudah terbiasa Prosthesis baru
1. Berat
2. Mulai merasa nyaman
3. Knee joint terlalu berat
4. Misal pasien terbiasa memakai akan nyaman saat dipakai
5. Pasien memberi nilai 7
6. soket variation
desain suspensi yang di pakai pasian kami : supracondylar
tumpuan berada : end of stump
desain socket push fit dengan silesian belt
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Knee disarticulation prostesis adalah alat pengganti anggota gerak tubuh yang dipasangkan di luar tubuh, diperuntukkan bagi pasien dengan amputasi knee disarticulation atau through knee (tepat lutut).
Jumat, 04 September 2015
Langganan:
Postingan (Atom)